Posted by: campungan | January 25, 2008

Risalah Kasih Sayang

Risalah Islam merupakan risalah “Rahmah” ( kasih saying).  Barang siapa yang memikulnya dan beriman kepadanya, maka dia akan bersikap kasih sayang terhadap seluruh manusia, karena dia mengambil keteladanan dari Rasulullah saw, yang telah memperagakan sikap serupa.  Seperti dalam firman Allah :
“ Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam ( Al-Anbiya : 107)”
Demikianlah bahwa jiwa manusia secara fitrah mencintai orang yang bersikap baik kepadanya dan membenci orang yang bersikap buruk kepadanya.  Dan da’I yang bijaksana  adalah mereka yang diberi taufiq / hidayah dari Allah untuk melihat hati-hati manusia yang tertutup, kemudian berupaya membukanya dengan lemah lembut dan berinteraksi dengan dengan kasih sayang dan berusaha menghadirkan perasaan cinta dalam berbicara dengan penuh objeck dakwah.  Dengan itulah maka hati yang keras akan menjadi lunak , jiwa yang penuh maksiat akan menjadi istiqomah dalam kebaikan.  Karena perlu kita ketahui bersama bahwa apa saja yang berasal dari hati akan sampai ke hati,  dan apa saja yang keluar dari lisan akan masuk telinga.
Jika kita hendak memahami jiwa manusia, maka ketahuilah bahwa setiap jiwa manusia itu cendrung berbuat kesalahan dan menentang kebenaran.  Terutama apabila telah lama tidak mendapatkan peringatan, sehingga hati menjadi keras dan jalan menuju maksiat semakin terbuka.  Jika dalam keadaan itu kita sentuh hatinya dengan dakwah secara langsung, maka akan tentu saja akan berbenturan dengannya.  Nah, disinilah perlunya kita bersikap lemah lembut dan bermuamallah ( bergaul) dengannya.  Hendaknya kita mengaetahui “Mudakhilun Nufus” ( tabiat jiwa dan pintu hatinya), karena kita tidak sedang berhadapan dengan batu keras, tidak pula berhadapan dengan malaikat yang suci/mulia,  tepapi kita sedang bergaul dengan jiwa manusia yang memiliki tabiat menerima dan menolak, ada kecendrungan baik dan ada pula kecendrungan buruk. Firman Allah :
“Demi jiwa(manusia) serta penyempurnaanya, maka Allah mengilhamkankepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaanya.” (Asy-Syams:7-8).
“Dijadikan indah dalam pandangan manusia kecintaan manusia kepada apa-apa yang diingini, yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah lading.  Itulah kesenangan hidup didunia, dan sisi Allahlah tempat kembali yang baik ( Surga) .” ( Ali Imran: 14).
Apabila kita tidak mengenal pintu-pintu untuk bisa masuk kedalam jiwa manusia, maka ketahuilah bahwa kegagalan tengah menanti kita, karena kita telah berbenturan dengan sunatullah, padahal sunatullah itu tidak berubah.  Apabila kesalahan itu bersumber dari diri kita yang tidak mau berusaha mengenal tabiat manusia,  maka tidak ada sesuatu yang membahayakan keberadaannya kecuali diri kita sendiri melalui sikap kita itu.
Sesungguhnya syahwat itu telah diciptakan dan tetap tidak akan berubah tabiatnya.  Maka kita ketika hendak berdahwah kepada orang awam, hendaknya jangan tergesa-gesa dalam melangkah.  Bersikaplah bijak dan berusahalah terus menerus higga kita memahami tabiat mereka dan mengetahui bagaimana cara masuk kedalam jiwa mereka.  Janganlah kita disibukkan mencari-cari aib/kesalahan mad’u.  Karena jika kita hanya mencari kesalahan-kesalahn mereka, maka tidak temukan hasil apapun dari pekerjaan/dakwah kita kecuali hanya akan menambah kerusakan mereka dan juga diri kita. Jika kita hendak menginginkan perbaikan, maka hendaknya dengan cara yang benar, dan tidak ada yang bisa memberi pertolongan kecuali Allah SWT.

B. FIQIH DAKWAH KAMI
Sesungguhnya dakwah tegak atas dasar “HIKMAH” yang salah satu maknanya adalah “Muqtadhal haal” ( menyesuaikan keadaan). Ali Bin Abi Thalib pernah berkata :
“Sesungguhnya hati manusia itu kadang-kadang menerima dan kadang-kadang menolak.  Maka apabila hati itu menerima, bawalah dia untuk melakukan nawafil ( amalan-amalan sunah), dan apabila hati itu sedang menolak, maka pusatkanlah( cukupkanlah) untuk melakukan faraidh ( yang wajib-wajib)”.
Kemudian Allah juga berfirman :
“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar).  Sesungguhnya syetan itu menimbulkan perselisihandiantara mereka.  Sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.  Rabbmu lebih mengetahui tentang kamu.  Dia akan memberi rahmat kepadamu jika Dia menghendaki, dan Dia akan mengadzabmu jika Dia menghendaki. Dan Kami tidaklah mengutusmu untuk menjadi penjaga bagi mereka.”( Al-Isra: 53-54).

Dalam ayat diatas dijelaskan bahwa seyogyanya kita harus mengembalikan segala sesuatunya kepada Allah SWT, apakah Allah akan merahmati-Nya atau sebaliknya meng-adzab.  Itu adalah cara/sikap yang terbaik.  Dan juga termasuk cara yang terbaik ketika ada suatu perdebatan untuk mencari titik-titik kesepakatan diantara orang yang sedang berdebat. Dalam firman-Nya :
“Dan janganlah kamu berdebat dengan ahli-ahli kitab, melainkan dengan cara yang paling baik.  Kecuali dengan orang-orang yang dzalim diantara mereka, dan katakanlah ,’Kami telah beriman kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Rabb kami dan Rabb kamu adalah satu;dan hanya kepada-Nya kami berserah diri.” ( Al-Ankabut:46)
Adapun sisi-sisi perbedaan yang tetap tidak bisa dipertemukan, maka keputusannya kita kembalikan kepada Allah di hari kiamat kelak.  Dalam firman-Nya :
“Dan jika mereka membantah kamu, maka katakanlah,’ Allah lebih mengetahui tentang apa yang kamu kerjakan, Allah akan mengadili diantara kamu kamu pada hari kiamat tentang apa yang kamu dahulu selalu berselisih padanya.” (Al-Hajj:68-69)
Apabila hal itu merupakan metode berdebat antara muslim dengan non muslim, lalu bagaimana pula jika debat itu dilakukan antara sesama muslim dimana berada dalam satu aqidah dan diikat oleh ukhwah islamiyah.  Sesungguhnya sebagian aktivis dakwah ada yang mencapur-adukkan antara berterus-terang ( sharahah) dalam kebenaran dengan kekerasan dalam metoda dakwah.  Padahal diantara keduanya ada perbedaan yang jelas diantara keduanya. Dan da’I yang bijaksana adalah mereka yang mampu menyampaikan dengan cara yang lemah lembut dan kata-kata yang baik tanpa mengurangi bobot/isi yang didakwahkan.
Imam Ghazali mengatakan dalam kitap “Ihya Ulumudin” bab Amar ma’ruf nahi munkar, “Tidak bisa memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar kecuali orang yang lemah lembut terhadap apa yang dia perintahkan dan lemah lembut terhadap apa yang dia cegah, penyantun terhadap apa yang dia perintahkan dan penyantun terhadap apa yang dia cegah, mengerti apa yang dia perintahkan dan mengerti terhadap apa yang dia cegah.  Allah juga menggambarkan bagaimana hubungan Rasulullah saw, dengan para sahabatnya dalam firman-Nya :
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu bersikap lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” ( Ali-Imran: 159)

C. KATA-KATA ADALAH MAKHLUK HIDUP
Sesungguhnya kalimah Thayyibah (perkataan yang baik) dalam pandangan Islam adalah di ibaratkan  seperti makhluk hidup yang keberadaannya mempunyai pengaruh.  Disinilah, pentingnya kita bertutur kata yang baik/lemah lembut terhadap mad’u.  Karena tutur kata yang baik dan juga lemah lembut merupakan kunci untuk membuka hati manusia agar mau menerima seruan untuk kemudian mau melaksanakannya.  Sesungguhnya yang penting dalam dakwah bukan hanya tersampaikannya hakekat itu kepada manusia, tetapi juga bagaimana uslub dan metode yang baik dalam menyampaikan hal itu.  Karenanya Rasulullah pernah berkata “ Hiasilah Al-Qur’an itu dengan suara kamu.”  .  Hal itu agar orang semakin terangsang dan tertarik kepada Al-Qur’an dan terpengaruh oleh kandungannya. Apalagi ucapan seorang da’I yang notabene mereka itu adalah seorang manusia bisa , makhluk yang penuh kesalahan, tentu lebih berhajat terhadap keindahan. Seperti firman Allah :
“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kokoh dan batangnya (menjulang) kelangit.” (Ibrahim:24)
Sesungguhnya Ar-Rifq (sikap lemah lembut) merupakan sesuatu yang menjembatani antara da’I dengan mad’unya.  Apabila seorang da’I kokoh dalam meletakkan jembatan itu, maka dia akan sampai kepada mad’u sesuai dengan apa yang diinginkannya.  Cobalah kita simak bagaimana sikap antara Rasulullah dan Aisyah ra. Dalam menghadapi orang-orang Yahudi.  Suatu ketika orang-orang Yahudi itu dating kepada Rasul lalu mereka mengucapkan “ As-Saam’alaikum”  yang artinya “ Celaka dan kebinasaan atas kamu.  Maka Rasulullah menjawab mereka dengan ucapan,” Wa’alaikum ,’ tidak lebih dari itu.  Maka Aisyah pada suatu hari menjawab dengan ,” Bal’alikum As-Saam wal la’nah,”  yang artinya, “ Atasmu celaka dan laknat.”
Maka ketika mereka pulang, Rasulullah berkata kepada Aisyah, “Pelan-pelan wahai Aisyah, sesungguhnya Allah tidak suka dengan kata-kata kotor dan jorok.” Aisyah berkata.” Wahai Rasulullah, tidakkah engkau mendengar apa yang mereka katakana ? Sesungguhnya aku telah mengucapkan “wa’alaikun”, maka Allah mengabulkan doaku dan tidak mengabulkan doa mereka.  Alangkah mulianya akhlak Rasulullah, alangkah tingginya budi pekertinya, sesungguhnya Allah SWT tidak menyukai kata-kata yang kotor lagi jorok, untuk pembelaan terhadap Rasulullah sekalipun. Seperti dalam firman-Nya :
“Allah tidak menyukai ucapan buruk(yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya.” (An-Nisa:148)
Akan tetapi bagi orang-orang yang menyandang title da’I , mereka akan mengetahui apa yang lebih patut bagi mereka. Allah juga berfirman :
“Tetapi orang-orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian termasuk hal-hal yang diutamakan.”(Asy-Syura:43)
Imam Syahid Hasan Al-Banna berkata,’ Jadilah kamu seperti pohon yang dilempari batu, maka pohon itu akan menjatuhkan buahnya. Mereka melempari kamu dengan penghinaan dan pelecehan, bahkan penyiksaan, tetapi kamu sikapi mereka dengan lemah lembut, lunak, dan kesabaran dalam menghadapi semua itu.  Sesungguhnya Allah mencintai kelembutan dalam semua urusan.”

D. TIADA KEMUNAFIKAN
Janganlah kita benturkan antara fikrah dengan kekuatan fisik dan juga kata-kata kita.  Tetapi bicaralah dengan baik dan janganlah kita mengira bahwa hal itu merupakan kemunafikan yang merusak syariat, akan tetapi upaya untuk memelihara perasaan seseorang.  Imam Bukhari juga  juga meriwayatkan bahwa Abu Darda berkata,’ Sesungguhnya kita sering tersenyum dihadapan kaum (musuh-musuh kita), tetapi hati kita melaknati mereka.’ Rasulullah dalam sabdanya :
“Sesungguhnya Allah itu lemah lembut dan mencintai kelemah-lembutan, dan Dia memberi kepada seseorang yang lemah lembut sesuatu yang tidak diberikan kepada orang yang keras kepala, dan tidak Dia berikan kepada selainnya.”(HR. Muslim)

E. PAHAM TERBALIK
Di zaman ini kita melihat keanehan dari sebagian generasi muda, dimana sebelum mereka aktif dalam dakwah Islam adalah seorang pemuda yang baik-baik, berbakti kepada orang tua, mencintai saudara-saudaranya, bersikap kasih sayang kepada tetangga, serta tawadhu terhadap orang-orang disekelilingnya.  Akan tetapi ketika Allah memberikan kenikmatan kepadanya untuk mengecap hidup bersama Islam, ternyata mereka memahami Islam dengan hawa nafsunya, sehingga kita lihat wajah mereka yang masam, cemberut, jarang tersenyum , kehilangan kasih-sayang terhadap yang lebih kecil, tidak menghormati orang tua, berani menghardik ibunya dan menantang bapaknya, memutus hubungan dengan saudara, bahkan mencaci maki mereka.
Seorang da’I seharusnya mencurahkan kasih sayang kepada mad’unya, seakan-akan mad’unya itu miliknya bukan milik orang lain, atau seakan-akan hubungan diantara keduanya seperti seperti orang tua yang mengasihi anaknya. Dalam rangka mengupayakan ta’liful qulub ( menyatukan hati) manusia dengan taufiq Allah, kita harus memperhatikan beberapa hal berikut :
Tanamkan pada diri mad’u bahwa kita menyeru mereka kepada sebuah prinsip nilai, bukan demi kemaslahatan pribadi.
Tanamkan dalam persaan mereka bahwa kita tidak menginginkan suatu balasan, tidak pula ucapan terima kasih, tetapi semata-mata berharap bahwa kebaikan akan selalu menyertai mereka.
Memberi kesan kepada mad’u bahwa kita selalu menaruh perhatian kepadanya dan menaruh kebaikan baginya.
Tidak besikap keras , meskipun hanya dengan kata-kata kita sendiri.
Hendaknya kita selalu berseri mukanya dan jangan sekali-kali mencari-cari kekurangan mad’u.
Hendaknya kita hadapkan wajah setiap berbicara didepan mad’u, dan jangan sekali-kali lecehkan kata-katanya.
Ketika berbicara dengan mad’u janganlah merasa lebih tinggi dari padanya. Tempatkan ia sesuai dengan posisinya.
Hengaknya kita menasehati mad’u dengan rahasia, jangan buka aibnya kepada orang banyak
Memberi hadiah kepada mad’u  untuk melunakkan hatinya.
Hendaknya seorang da’I merangsang tekad mad’u agar hatinya terbuka untuk menerima kebenaran.
Dari kesembilan points diatas dapat dijadikan referensi dalam berdakwah ataupun etika berdialoq kepada mad’u dalam rangka pengikatan hatinya.
Firman Allah :
“Maka berpegang teguhlah kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu.  Sesungguhnya kamu berada diatas jalan yang lurus.” ( Az-Zukhruf:43)
F. MEMADUKKAN KEBAJIKAN DENGAN CINTA
Sesungguhnya “al-birr” ( kebajikan)   itu merupakan aktifitas fisik, bukan aktifitas hati. Untuk itu kita dibolehkan untuk berwajah seri kepada orang kafir sekalipun.  Kebajikan dan keadilan itu berkaitan dengan aktivitas fisik, tanpa mengubah sikap bathin dan tanpa mempengaruhinya.  Karena itu kita tidak mencintai atau membenci sesuatu karena Allah.  Adapun “mawaddah” ( cinta)  merupakan gerakan dan aktivitas hati dan gerakan hati yang berkaitan dengan keyakinan dan keimanan. Oleh karena itu hanya orang-orang yang beriman dan beramal sholehlah yang diberikan oleh Allah SWT perasaan cinta.  Dan dialah yang menciptakan bagi kamu istri (pasangan) agar kamu merasa tentram dengannya dan Dia jadikan diantara kamu mawaddah dan rahmah ( kasih sayang).  Oleh karena itu “ta’liful qulub” (ikatan hati)   itu hanya dating dari Allah SWT. Firman Allah :
“Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat saling berkasih sayang dengan orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak atau anak-anak atau saudara-saudara atau keluarga mereka.  Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang dating dari pada-Nya.  Dan dimasukkan-Nya mereka kedalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal didalamnya.  Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun puas (limpahan rahmat)-Nya.  Mereka itulah golongan Allah.  Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah yang beruntung.” (Al-Mujadilah:22)
Ulama tafsir mengatakan bahwa tujuan ayat tersebut adalah melarang kita untuk mempercayai dan mencintai orang-orang kafir dan orang-orang berbuat zhalim.  Ayat ini datang dalam bentuk pemberitahuan/ peringatan.  Ada dua buah sifat utama yang hendaknya dimiliki oleh seorang da’I dan mereka harus memahaminya. Dua sifat utam itu antara lain :
Bersikap lemah lembut kepada manusia ketika berdakwah.
Menahan marah ketika bergaul dengan mereka.

G. JADIKAN HATIMU BEJANA PENAMPUNG CINTA
Sesungguhnya tugas seorang da’I adalah membersihkan jiwa dan hatinya dari segala penyakit dan keinginan untuk membalas dendam terhadap ulah para penentangnya dalam dakwah. Maka hendaknya hatinya menjadi bejana yang dapat menampung cinta. Alangkah baiknya jiwa yang telah siap mendengarkan taujih Rabb-nya, sehingga menjadi lunak dan tenang serta siap untuk melaksanakan apa-apa yang diperintahkan Allah kepadanya.  Disinilah seorang da’I dapat terbebas dari hasrat hawa nafsunya dan dia selalu memanjatkan doa bagi mad’unya.  Semoga yang demikian itu Allah akan memberikan kebaikan untuknya. Firman Allah :
“Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antara kamu dengan orang-orang yang kamu musuhi diantara mereka. Dan Allah adalah Mahakuasa, dan Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(Al-Mumtahanah:7)

H. MENUTUP AIB ORANG YANG BERMAKSIAT
Sesungguhnya seorang da’I dituntut untuk menutupi aib orang yang bermaksiat dan tidak membukanya dihadapan orang banyak, tetapi membantunya agar menjauhi maksiat tersebut, yaitu dengan menunujukkan pintu taubat kepadanya. Firman Allah :
“Katakanlah ,’Hai hamba-hamba-Ku yang melampui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.  Sesungguhnya Dia-lah yang maha pengampun lagi Maha Penyanyang.”( Az-Zumar:53)
Begitulah , sesungguhnya ampunan Allah itu lebih besar dan taufiq-Nya lebih dekat dengan seorang daripada urat lehernya sendiri, jika saja dia mau bertaubat dengan ikhlas kepada-Nya. Seperti dalam firman-Nya :
“Sesungguhnya Rabbmu benar-benar mempunyai ampunan (yang luas) bagi manusia, sekalipun mereka zhalim dan sesungguhnya Rabbmu benar-benar sangat keras siksa-Nya (ar-Ra’d:6).

I. BERSIKAP RAMAH TERHADAP ORANG AWAM
Penting artinya kita mengetahui perbedaan antara ramah (madaaraat) dan basa-basi (mudahanah).
“Mudaaraat adalah sikap lemah lembut terhadap mad’u dan berseri dihadapan mereka, tanpa menyebunyikan kebenaran.”
“Mudahanah adalah sejenis kemunafikan yang bercampur bas-basi (mujamalah) yang diharamkan, sanjungan yang mengandung dusta, mengatakan baik suatu kebatilan , mengubah hakikat kebenaran.

Sumber /Referensi :  Fiqih Dakwah, cetakan ke-3, Jum’ah Amin Abdul Aziz


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: